
TULUNGAGUNG,Rajawali1news.com – Sekolah Dasar adalah fondasi.
Di sanalah karakter dibentuk. Di sanalah pola pikir ditempa. Di sanalah anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan bermimpi.
Maka menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif bukan lagi pilihan. Itu adalah keharusan mutlak.
Kita tidak bisa menutup mata. Tantangan dunia pendidikan hari ini semakin kompleks. Masih ada isu perundungan, kekerasan fisik, kekerasan verbal, hingga diskriminasi yang mengintai. Hal-hal ini adalah racun bagi tumbuh kembang anak-anak kita.
Dari sinilah lahir komitmen: Sekolah Ramah Anak / SRA.
SRA bukan sekadar papan nama yang dipasang di gerbang. Bukan pula sekadar tumpukan dokumen administrasi.
SRA adalah perubahan budaya. SRA adalah perubahan paradigma.
SRA menuntut kita semua untuk berubah. Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan, Orang Tua, hingga Masyarakat. Cara kita memandang anak. Cara kita berbicara pada anak. Cara kita mendidik anak. Semua harus berlandaskan kasih, hormat, dan perlindungan.
Melalui kegiatan penguatan SRA tahun 2026 ini, diharapkan seluruh satuan pendidikan jenjang SD di Tulungagung dapat:
Bapak dan Ibu Guru yang saya banggakan,
Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua. Rumah yang hangat. Rumah yang membuat anak betah belajar. Rumah yang membuat anak berani bermimpi.
Karena pada akhirnya, anak yang hari ini kita lindungi di sekolah,
adalah pemimpin yang akan menjaga Tulungagung di masa depan. (BB)
Tidak ada komentar