“Kharisma Satu Jiwa, Batik Ngrowo Memikat di Halaman GOR Lembupeteng”86 Peserta Tampil, Tulungagung Didaulat Wakili Jatim di Hari Batik Nasional

waktu baca 3 menit
Selasa, 25 Agu 2026 10:13 0 1 REDAKSI

Foto : Mahakarya Batik Tulungagung.

TULUNGAGUNG,Rajawali1news.com – Halaman GOR Lembupeteng berubah menjadi panggung megah. Bukan panggung konser, tapi panggung kebanggaan. Di sinilah warna-warni Batik Ngrowo dipamerkan dengan cara paling elegan: melalui helaian kain yang berjalan di atas catwalk. (Sabtu sore, 22 Agustus 2026).

Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Mahakarya Batik Tulungagung: Fashion Show Batik dan Model Competition 2026 dengan tema “Kharisma Satu Jiwa Batik Tulungagung”.

Acara ini bukan sekadar lomba. Ini adalah rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Sekaligus menjadi pemanasan menuju peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober 2026. Dan ada kabar baik: Tulungagung dipercaya mewakili Jawa Timur di peringatan tingkat provinsi di Surabaya.

Di tengah gemuruh tepuk tangan, PLT Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M. menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam.
“Mari jadikan batik sebagai bagian dari gaya hidup. Ini bukan hanya soal pakaian. Ini bentuk penghargaan kita kepada para pewaris dan perajin batik Indonesia yang sudah menjaga warisan ini turun-temurun,” ujarnya.

Beliau juga menitipkan instruksi penting kepada seluruh perangkat daerah.
“Saya minta, utamakan pengadaan seragam batik dari pengusaha lokal. Karena ketika kita memakai batik Tulungagung, berarti kita sedang menghidupkan ekonomi saudara-saudara kita sendiri,” tegasnya.

Lalu beliau menutup sambutannya dengan ajakan yang menggetarkan.
“Mari menjadi duta Batik Ngrowo. Terus berinovasi mengikuti zaman. Mengisi kemerdekaan itu dengan prestasi, dengan inovasi, dan dengan mencintai produk asli Tulungagung,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Muhamad Ardian Candra, http://S.STP. menjelaskan tujuan utama kegiatan ini.
Memberi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk berkarya. Mempromosikan produk fashion dan kriya berbasis batik lokal. Serta menyukseskan Hari Batik Nasional yang sebentar lagi tiba.

Antusiasmenya luar biasa.
Sebanyak 86 peserta mengikuti kompetisi. Ditambah 30 model ekshibisi dari 15 galeri batik Tulungagung. Panggung itu diramaikan oleh anak-anak SD kelas 1 sampai 6, remaja SMP-SMA, hingga mahasiswi dan umum. Empat kategori, satu semangat: menunjukkan bahwa batik itu milik semua umur.

“Para pemenang nantinya akan diberi kesempatan tampil di rangkaian Hari Batik Nasional di Surabaya,” ungkap Ardian.

Yang lebih membanggakan, sekitar 50 persen peserta ternyata datang dari luar Tulungagung. Dari 16 kabupaten/kota se-Jawa Timur mereka berbondong-bondong datang. Ini bukti bahwa kharisma Batik Ngrowo sudah melampaui batas kota.

“Harapan kami, potensi batik Tulungagung bisa benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan tahun depan, acaranya harus lebih meriah, lebih berkualitas, dan dampaknya lebih terasa di bidang sosial, ekonomi, maupun budaya,” pungkasnya.

Di ujung catwalk sore itu, kain batik tidak hanya dipamerkan. Ia bercerita. Tentang tanah Ngrowo. Tentang tangan-tangan perajin yang telaten membatik malam demi malam. Tentang anak-anak muda yang bangga memakai warisan leluhur.

Karena pada akhirnya, batik bukan sekadar kain bermotif.
Batik adalah jati diri. Adalah doa. Adalah cara kita bilang ke dunia: ini loh Tulungagung. (BB)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA