Dinkes Pulang Pisau Pastikan Penyedia Makanan Bergizi Gratis Pahami Standar Kesehatan dan Keamanan Pangan

waktu baca 2 menit
Selasa, 14 Okt 2025 09:58 0 34 REDAKSI

PULANG PISAU,Rajawali1news.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah memastikan seluruh penyedia program Makanan Bergizi Gratis (MBG) memahami standar kesehatan dan keamanan pangan sebelum melayani penerima manfaat. Langkah ini dilakukan melalui pelatihan intensif agar makanan yang disajikan benar-benar aman, bersih, dan tetap bergizi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau, dr. Pande Putu Gina, mengatakan pelatihan tersebut juga membekali penyedia MBG dengan pengetahuan tentang cara memasak yang tepat agar kandungan gizi dalam bahan makanan tidak berkurang akibat proses pengolahan. “Kami menekankan pentingnya teknik memasak yang benar, karena sedikit kesalahan bisa membuat nilai gizi turun,” ucapnya di Pulang Pisau, Senin 13 Oktober 2025.

Menurutnya, pelatihan tidak hanya membahas aspek gizi, tetapi juga menyoroti pentingnya sanitasi dan pencegahan risiko keracunan makanan. Hal ini karena penyedia MBG kerap memasak dalam jumlah besar, sehingga pengawasan terhadap kebersihan dan suhu penyimpanan menjadi sangat penting.

“Bayangkan untuk seribu porsi dimasak tengah malam dan baru disajikan pagi hari. Jika pengolahan tidak sesuai prosedur, kuman mudah berkembang dan bisa menimbulkan keracunan. Ini yang kami tekankan agar tidak terjadi,” jelas Pande.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap penyedia MBG setelah kontrak berjalan bukan lagi tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pihak yang melakukan kontrak langsung dengan penyedia. Namun demikian, Dinas Kesehatan tetap memberikan penyuluhan dan panduan agar proses pengolahan makanan sesuai standar kesehatan.

“Sebelum dikontrak, penyedia wajib diverifikasi kelayakan dapur, kebersihan alat, hingga kesehatan pengolah makanannya. Setelah itu, kami hanya memberi edukasi agar tetap patuh pada prinsip makanan sehat dan aman,” katanya menegaskan.

Pande juga mengingatkan agar kondisi kesehatan pekerja dapur menjadi perhatian utama. Menurutnya, pekerja yang mengalami gangguan pencernaan, batuk, atau flu sebaiknya tidak dilibatkan dalam pengolahan karena dapat menularkan penyakit melalui makanan. Selain itu, sumber air untuk memasak juga harus terjamin kualitasnya agar tidak menjadi pemicu masalah kesehatan.

“Banyak kasus di daerah lain yang disebabkan air tercemar atau makanan dibiarkan lebih dari empat jam sebelum disajikan. Itu membuka peluang tumbuhnya bakteri. Karena itu, penyedia MBG harus disiplin menjaga kebersihan dan ketepatan waktu penyajian,” tegas Pande Putu Gina.

Ia menutup dengan menekankan bahwa keamanan pangan bukan sekadar kewajiban teknis, tetapi bentuk tanggung jawab moral terhadap penerima manfaat. “Makanan bergizi hanya berarti jika disajikan dengan cara yang sehat dan aman. Itulah yang terus kami dorong di setiap pelatihan,” pungkasnya. (RHN)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA