
Foto : Rusdy Mastura.
SULTENG,Rajawali1news.com – Dalam politik, ada pemimpin yang selesai bersamaan dengan berakhirnya jabatan. Ada pula pemimpin yang pengaruhnya tetap hidup karena gagasan, pengalaman, dan kemampuannya membaca arah zaman masih dibutuhkan masyarakat.
Rusdy Mastura berada pada kategori yang kedua.
Sulawesi Tengah hari ini sedang memasuki babak pembangunan yang jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu. Investasi terus berdatangan. Kawasan industri berkembang pesat. Arus modal global masuk ke daerah. Di saat yang sama, tantangan kemiskinan, kesenjangan sosial, kualitas sumber daya manusia, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan antarwilayah masih menjadi pekerjaan besar yang belum selesai.
Pada situasi seperti ini, daerah tidak hanya membutuhkan pejabat. Daerah membutuhkan pengalaman, kebijaksanaan, dan kepemimpinan moral yang mampu menjaga arah pembangunan tetap berpihak kepada rakyat.
Di sinilah relevansi Rusdy Mastura menjadi penting.
Selama lebih dari dua dekade, ia tidak hanya menyaksikan perubahan Sulawesi Tengah, tetapi menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri; Sebagai Wali Kota Palu, ia terlibat dalam transformasi ibu kota provinsi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru; Sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, ia memimpin daerah dalam masa yang mungkin menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah modern daerah ini.
Ketika dilantik pada tahun 2021, pandemi COVID-19 sedang berada pada titik kritis. Rumah sakit menghadapi tekanan besar. Aktivitas ekonomi menurun. Masyarakat hidup dalam ketidakpastian. Pada saat yang sama, pekerjaan rumah pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi 2018 juga belum sepenuhnya selesai.
Tidak banyak pemimpin yang mendapat warisan persoalan seberat itu!
Namun di tengah krisis tersebut, pemerintahan tetap berjalan. Rehabilitasi dan rekonstruksi terus didorong. Hunian tetap terus diperjuangkan. Pemulihan ekonomi daerah terus dilakukan. Investasi tetap dijaga agar lapangan kerja tidak berhenti tumbuh.
Sulawesi Tengah berhasil melewati fase yang sangat menentukan bagi masa depannya. Tetapi kontribusi Rusdy Mastura tidak hanya berada pada wilayah pemerintahan.
Salah satu tantangan terbesar Sulawesi Tengah sejak lama adalah menjaga harmoni sosial di tengah keragaman masyarakatnya. Daerah ini pernah mengalami konflik yang meninggalkan luka mendalam. Karena itu, stabilitas sosial bukan sesuatu yang dapat dianggap selesai. Ia harus terus dirawat.
Rusdy Mastura memahami hal itu. Dalam berbagai kesempatan, ia menempatkan toleransi, moderasi, dan persaudaraan sebagai fondasi pembangunan. Baginya, investasi dapat datang dan pergi, tetapi persatuan masyarakat adalah modal pembangunan yang tidak tergantikan.
Hari ini, ketika Sulawesi Tengah bergerak menuju era industrialisasi dan investasi besar-besaran, daerah menghadapi tantangan baru. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menarik investasi, melainkan bagaimana memastikan investasi menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana membangun pertumbuhan ekonomi, melainkan bagaimana pertumbuhan itu menciptakan mobilitas sosial bagi rakyat kecil.
Pertanyaan-pertanyaan besar itulah yang membuat figur seperti Rusdy Mastura masih relevan.
Ia memahami birokrasi karena pernah memimpinnya. Ia memahami politik karena pernah menjalaninya. Ia memahami masyarakat karena tumbuh bersama mereka. Dan yang lebih penting, ia memahami perjalanan Sulawesi Tengah dari masa ke masa.
Karena itu, Rusdy Mastura tidak seharusnya dipandang semata sebagai mantan gubernur atau mantan wali kota. Ia adalah aset intelektual dan sosial daerah yang masih dapat memberi arah, gagasan, serta pengalaman bagi generasi pemimpin berikutnya.
Bangsa dan daerah yang maju bukanlah daerah yang membuang pengalaman para pemimpinnya setelah jabatan berakhir. Sebaliknya, mereka menjadikan pengalaman itu sebagai sumber pengetahuan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Sulawesi Tengah saat ini membutuhkan lebih banyak gagasan tentang pengentasan kemiskinan, transformasi ekonomi rakyat, penguatan sumber daya manusia, dan harmoni sosial. Dan pada titik itulah pengabdian Rusdy Mastura belum selesai. Karena pengabdian tidak selalu dilakukan dari kursi kekuasaan.
Terkadang, pengabdian justru menemukan bentuk terbaiknya ketika seorang pemimpin menjadi sumber inspirasi, pengetahuan, dan energi bagi masyarakat yang terus bergerak menuju masa depan.
Sulawesi Tengah masih memiliki banyak pekerjaan besar. Dan selama pekerjaan itu belum selesai, pengalaman, gagasan, serta komitmen pengabdian Rusdy Mastura masih menjadi bagian penting yang dibutuhkan daerah ini.***
Laporan Stefililis
Tidak ada komentar